Paus St.Pius X
saat masih menjadi Cardinal.
saat muda
Jenazahnya masih utuh
Di sebuah kampung Italia Utara, yaitu Riese, pada tahun 1835 dilahirkan Josep Sarto, tetapi sang ibu sering sering memanggil dia dengan Beppo. Keluarga Beppo adalah keluarga miskin, tetapi mereka memiliki kehidupan Rohani yang sangat taat kepada Tuhan Yesus.. Gambar Keluarga Kudus terpampang di seluruh sudut rumah mereka, dan mereka memiliki kebiasaan untuk berdoa bersama satu keluarga setiap malam.
Beppo memiliki cita cita yang sangat luhur, yaitu ingin menjadi seorang Imam bila sudah besar kelak. Tetapi Bapak Ibunya terkadang memiliki kekuatiran apabila tidak mampu membiayai keinginan dari Beppo tersebut. Untuk itulah, Bapak Ibunya setiap hari selalu bekerja keras dan menabung untuk mewujudkan keinginan anaknya, yaitu menjadi seorang Imam. Semasa bersekolah, Beppo juga tidak ingin mengecewakan orang tuanya, ia belajar dengan giat untuk mewujudkan cita citanya. Untuk bersekolah, Beppo harus menempuh perjalanan yang cukup jauh, kurang lebih 7 kilo meter dengan berjalan kaki, turun naik bukit. Selain itu, selama perjalanannya ke sekolah, Beppo tidak memakai sepatunya, melainkan selalu dikepit di ketiaknya, dan setelah sampai di sekolah, baru sepatunya dipakai oleh Beppo. Saat itu, ia menyadari Bapak dan Ibunya adalah orang yang kurang mampu, jadi ia tidak ingin menyusahkan orang tuanya dengan merusakkan sepatunya. Di sekolahnya pun, Beppo termasuk anak yang sederhana, terlihat dari pakaian yang dikenakannya sangat jauh berbeda dengan pakaian yang dipakai oleh anak anak lain yang lebih mampu dari Beppo. Selesai sekolah, Beppo melakukan pekerjaan di rumah teman temannya yaitu membelah kayu, mengurus hewan, dan lainnya.
Bapak Beppo, meninggal pada waktu Beppo berumur 15 tahun. Kejadian tersebut tentunya sangat membuat sedih Ibunya dan Beppo. Tetapi tidak menyurutkan semangat untuk menyekolahkan Beppo. Setamat dari SMP, Beppo masuk pendidikan Seminari, guna mewujudkan cita citanya.
Umur Beppo baru 23 tahun, tetapi ia sudah menjadi seorang Imam. Tugas pertama sebagai Imam, adalah menjadi Imam pembantu di Tombolo, setelah itu ia menjadi Pastor di Salzano. Di daerah sana, ia terkenal karena Imam yang hidupnya sangat miskin. Pastor Sarto [Beppo] seringkali menolong orang miskin dan sakit, tetapi ia kerapkali melupakan dirinya, sampai ia sering tidak makan karena telah diberikan kepada orang yang lebih membutuhkan menurut dia.
Pada suatu hari, ada seorang Imam yang berkunjung ketempatnya. Imam tersebut bermaksud untuk berlibur dan mendaki gunung Alpen. Saat sang Imam berkunjung, kebetulan sekali yang mengurus rumah Pastor Beppo, Lusia yang merupakan saudara Beppo sendiri sedang tidak ada. Akhirnya Pastor Beppo sendiri yang membuatkan sekedar kopi, yang kemudian dirasakan tidak enak oleh sang Imam yang berkunjung.. tapi itulah menjadi awal perkenalan mereka berdua. Dan menurut perkembangannya, Imam yang berkunjung tersebut menjadi Paus Pius XI.
Paus Leo XIII mengangkat Pastor Beppo menjadi Uskup Mantua. Jubahnya yang lama harus diganti dengan Jubah Ungu, tanda sebagai seorang Uskup. Saat itu, Lusia tetap menjadi pengurus rumah, karena ia ingin seorang Uskup harus makan lebih layak dan enak seperti orang besar. Tetapi mendengar itu, Uskup Beppo mengatakan dengan tegas, "Tidak..! Saya sudah biasa makan dengan nasi satu piring. Tidak ada yang berubah".
Pada suatu hari ia berada di Roma. Ia ingin mengadakan Misa di Makam Petrus dan Paulus, yang merupakan hak seorang Uskup. Tetapi ada seorang Koster muda dan tidak mengenal dia, lalu mengusir Uskup Beppo agar tidak mengadakan misa ditempat itu, dan harus pindah ke tempat lain. Uskup Beppo yang memiliki pribadi sederhana, hanya tersenyum dan mengikuti anjuran si koster muda itu. Tetapi saat di usir itu, ia sempat berkata kepada koster muda itu dengan nada bercanda, "Tunggu saja, kalau saya nanti jadi Paus, kamu tidak akan mengusir saya.." Di bilang begitu, si Koster muda hanya diam mencibir karena ia tidak tahu siapa sebenarnya Uskup Beppo.
Karena kecakapannya, Uskup Beppo diangkat menjadi Kardinal dan Uskup Agung kota Venesia. Sebab itu, ia harus berganti jubah lagi dengan Jubah Merah. Karena ia tidak memiliki uang untuk mengganti Jubahnya, maka ia berinisiatif mencat jubah ungunya dengan cat merah, tetapi ternyata hasilnya malah berantakan dan tidak bagus. Melihat Kardinalnya, menggunakan jubah yang tidak bagus, ada seorang Venesia membelikan jubah merah baru untuk sang Kardinal . Jadilah Kardinal Beppo berterima kasih kepada orang itu dengan menggunakan Jubah Merah yang sangat bagus.
Paus Leo XIII sudah meninggal pada thaun 1903. Seperti biasa, seluruh Kardinal berkumpul untuk memilih Paus baru. Setelah melakukan perundingan, akhirnya terpilihlah Kardinal Beppo menjadi penerus sebagai seorang Paus yang baru. Mendengar hal itu, Kardinal Beppo sangat terkejut, dan memohon kepada seluruh Kardinal agar membatalkan keputusan mereka itu. Sampai ia memohon mohon dengan sangat, karena ia merasa kurang pantas untuk menjadi penerus Paus. Melihat Kardinal Beppo seperti itu, seorang Kardinal dari Amerika, Kardinal Gibbons, mengatakan, "Itu tandanya, bahwa ia dipilih oleh Allah. Sebab dia kudus dan rendah hati," Kardinal Beppo terus berlinang air mata, karena ia merasa rendah harus menjadi pengganti Kristus di dunia ini.
Setelah melakukan beberapa kali doa dan keyakinan diri, akhirnya Kardinal Beppo pun resmi menjadi seorang Paus, dengan itu namanya pun diganti menjadi Paus Pius X. Seperti perjalanan hidupnya terdahulu yang sederhana, kebiasaan itupun selalu terbawa walaupun ia telah menjadi seorang Paus. Tatkala ia mendengar jumlah Juru masak untuk Paus ada tujuh orang, dengan cepat ia berkata, "Untuk apa juru masak sebanyak itu...? Untuk masak nasi satu piring, cukuplah saudaraku saja yang memasak..." Selain itu juga, seorang penjaga telah ditugaskan untuk menjaga kamar Paus Pius X waktu malam. Ketika Paus Pius X pertama kali tidur di kamar seorang Paus, ia selalu gelisah.. karena saat tidur ia selalu mendengar langkah kaki sang penjaga yang ada di depan kamarnya, lalu ia pun bangun dan berkata kepada sang penjaga "Untuk apa kamu disini..?" ucapnya... "Saya ditugaskan menjaga Bapa Suci.." jawab sang penjaga.. "Kamu tidak usah cape begitu.. sana kamu pergi tidur saja... setelah itu baru saya bisa tidur lebih nyenyak..." lanjut Paus Pius X menyuruh sang penjaga untuk pergi dan tidur.
Yang menjadi kabar besar bagi Gereja saat itu, adalah disaat Paus Pius X membuat keputusan supaya anak anak kecil diberi izin untuk menerima komuni. Pada suatu hari, ada seorang Ibu dari Inggris mengunjungi Paus Pius X bersama dengan anaknya. Bapak Suci melihat itu pun, bertanya, "Berapa umur anak mu..?" Ibu itupun menjawab... "Empat tahun, Bapak Suci.. sekitar dua atau tiga tahun lagi ia baru dapat menerima komuni"
" Siapa yang engkau terima kalau dalam komuni..?" tanya Bapak Suci kepada sang anak..
"Yesus Kristus..!" jawab anak itu dengan tegas dan cepat.
"Siapa Yesus Kristus.?" tanya Bapak Suci lagi..
"Yesus Kristus Allah..!" jawab sang anak dengan jelas.
"Besok bawa dia kepada saya... saya akan memberikan sendiri ke anak ini, Komuni Kudus.." ucap Bapak Suci kepada ibunya..
Karena hidupnya yang suci, maka Paus Pius X digelarkan, BEATO di tahun 1951, yang artinya bahwa ia berdiam didalam Surga . Ditahun 1954, ia pun di gelarkan KUDUS(santo). Paus st.Pius X terkenal, karena ia sering menyuruh agar segala anak mulai dari kecil, akan diberi Komuni Kudus. Sebab itu, ia sering kali pula di namai Paus Ekaristi. Hari Peringatannya adalah setiap 3 September.
Teladan yang bisa kita ambil dari cerita Paus Pius X, adalah kita harus memiliki kerendahan hati dan cinta kasih kepada Yesus dalam Sakramen Yang Maha Kudus.
0 komentar:
Poskan Komentar