Akhir-akhir ini dunia pendidikan di Indonesia semakin kacau.Kelulusan dari suatu tingkatan satuan pendidikan ditentukan oleh Ujian Nasional yang hanya berlangusung kurang dari seminggu,kira-kira hanya 5 hari.Jadi belajar selama 12 tahun(SD 6 tahun,SMP 3 tahun,dan SMA 3 tahun),hanya ditentukan ketuntasannya lewat 15 hari.Sungguh sesuatu yang menyeramkan bukan.Belum lagi ditambah standar kelulusan yang per tahun semakin meninggkat.Sungguh sesuatu yang tidak adil.Belum lagi,akhir-akhir ini materi Ujian Nasional ditambah lagi.Yang paling mengenaskan,adalah yang terjadi di SMA.Yaitu jurusan bahasa dibebani ujian nasional Matematika,pelajaran yang me-mati-kan itu(karena selalu berkutat dengan hitungan yang rumit,yang bertolak belakang dengan visi jurusan bahasa sendiri).Hal ini semakin membuktikan bahwa system pendidikan di Indonesia “amburadul”tidak dapat berpikir luas.Bayangkan,setiap anak diberi talenta yang berbeda satu sama lain.Anak Bahasa tentu mempunyai talenta lain dengan anak IPA.Jadi talenta masing-masing orang perlu diperdalam agar menghasilkan sesuatu yang berguna.Misalnya anak bahasa tentu punya kemampuan yang melebihi batas rata-rata dalam mengafahalkan bahasa-bahasa,jika talenta tersebut semakin diperdalam tentu akan memunculkan tokoh sastrawan baru.Eh malah dalam Ujian kelulusan ditambah bidang studi Matematika yang memang menjadi ciri khas anak IPA.Hal ini sungguh membebankan anak bahasa.Dan masih banyak contoh kasus lagi.
Berhasilkah ?
Sistem pendidikan seperti ini tentu tidak baik bagi generasi-generasi penerus bangsa Indonesia.Dengan beban yang begitu tinggi,bukan memberikan dampak yang baik malah cenderung memberikan dampak yang buruk.Dengan standar yang begitu tinggi malah membuat anak stress dan kehilangan imannya(wuih,serem…)dan terdorong untuk melakukan tindakan yang tidak baik atau tidak jujur bahasa kerennya “Mencontek”.Bagaimana tidak,jika anak tidak mampu memenuhi standar yang memang begitu tinggi,ia akan mendapat hal yang paling memilukan bagi dirinya yaitu “tidak lulus/tidak naik.”Tentu yang akan menjadi hal yang paling mengerikan dan hal yang harus dihindari melalui berbagai cara oleh anak-anak termasuk mencontek tersebut.
Sekolah Katholik
Bagi sekolah-sekolah Katholik yang mempunyai motto:”Non Scholae Sed Vitae Discimus”(”Aku belajar bukan untuk sekolah melainkan untuk hidup”)sungguh mengenaskan jika itu terjadi di sekolah Katholik.Seharusnya sekolah-sekolah Katholik yang menjadi sekolah yang “paling” diburu menerapkan suatu cara yang berbeda dengan sekolah-sekolah lain non-Katholik dalam mendidik generasi penerus bangsa ini agar lebih siap menjalani “hidup” ini.Sesuai dengan motto:”. Non Scholae Sed Vitae Discimus”Bukan malah menaikan standar yang malah membebankan anak,dan imbasnya mendorong anak melakukan tindakan yang tidak terpuji itu alias tindakan curang yaitu mencontek yang akan menyiapkan para koruptor-koruptor baru.
Harapan
Semoga SMAK St.Albertus Dempo menjadi pelopor sekolah yang mendidik anak bukan untuk hanya sekolah saja yaitu juga agar siap dalam menjalani hidup.Yaitu sesuai dengan motto:” Non Scholae Sed Vitae Discimus” (“aku belajar bukan untuk sekolah melainkan untuk hidup”)Dan kami sebagai siswa sekaligus penerus tidak mengalami nasib yang mengenaskan.
Mei 2009
Stefano PU
Minggu, 24 Mei 2009
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar